Thursday, January 22, 2009

Tubuh Tak Tampak (LOVING GOD II)

Dari dalam selnya di "Patah Hati" (nama selnya), Howard Rutledge dapat mendengar penjaga berjalan di koridor dan secara metodik membuka kunci pintu-pintu tebal sel yang terbuat dari jati. Rutledge menghitung sampai tiga, dan gilirannya pun tiba. Kunci berputar dan daun pintu terayun membuka. Rutledge berlutut seolah-olah memuja penawannya, dan mengambil kedua mangkuk ransum yang diletakkan di lantai semen kotor di depannya. Setelah menerima makanan itu, ia berdiri dengan penuh perhatian di depan penjaga. Kalau tidak berbuat demikian, ia akan dihukum. Ketika pintu ditutup, selera makannya direnggut oleh satu embusan udara berbau kotoran. Ia duduk di ranjangnya yang berupa lempengan semen dan menaruh satu tangan di atas mangkuk berisi cairan hijau comberan itu supaya lipas tidak masuk di dalamnya. Ketika roti keras dikunyahnya, butiran pasir yang terpendam dalam adonannya hancur di antara giginya.

Penjaga datang lagi ke pintu dan selesailah waktu makan pertama dari jatah makan Rutledge yang dua kali sehari. Gong berbunyi, menandakan waktu untuk berbaring selama dua jam. Secara berkala seorang penjaga yang berjalan di koridor akan membuka lubang intip di pintu sel untuk memastikan ia sudah menelungkup. Ia tidur-tidur ayam sampai gong berbunyi lagi, kali ini melarang dia berbaring. Sekarang ia harus berdiri atau duduk selama tujuh jam.

Rutledge mendengar siulan lembut dari sel seberang. Itu Harry Jenkins menyiulkan "MAry had a Little Lamb," tanda ia ingin berkomunikasi. Rutledge menumpukan kaki telanjangnya di atas lempeng semen pada kedua sisi selnya dan mendorong badannya naik ke jendela berpalang logam yang ada di atas palang pintu.

"Howard," bisik Jenkins.
"Di sini," bisik Rutledge.
"Aku ingat cerita lain," kata Jenkins cepat.
"Apa itu?"
"Rut dan Naomi. Naomi kehilangan segala yang dimilikinya - suaminya, putra-putranya, dan tanahnya."
"Aku ingat sebagian."
"Rut adalah menantu Naomi. Rut setia kepada Naomi dan tinggal dengannya. Mereka pergi ke negeri asing."
"Apa yang terjadi?" tanya Rutledge.
"Aku tidak ingat."

Seorang yahanan di sel tetangga terbatuk, menandakan bahwa seorang penjaga mendekat. Rutledge turun dari tempat bertenggernya.
Ia mondar-mandir di selnya, memikirkan cerita Jenkins. Ia berusaha mengingat nama orang yang menolong Rut dan Naomi. Tiga jam kemudian ia masih mengulangi cerita itu di dalam pikirannya. Ia telah mendengarnya di Sekolah Minggu sewaktu berusia sepuluh tahun. Ia merenungkan cerita itu sepanjang waktu makan yang kedua dan terakhir hari itu - sup ganggang laut dan lemak perut babi.

"Hannah Hanoi" meletup hidup di pengeras suara pada jam 20.30 malam. Selama setengah jam, dituturkannya cerita propaganda pengantar tidur. Setelah selesai, Rutledge memanjat lagi ke bukaan itu dan berbisik, "Jenkins."
Hening. Kemudian, "Apa?"
"Boas."
"Aku tahu. Aku baru ingat."

Secara berangsur-angsur komunikasi antar tahanan meningkat. Mereka mengarang sandi berdasarkan Sandi Morse dan memakainya untuk berkomunikasi. Mereka berkomunikasi dengan telinga menempel ke dinding dan tubuh terbungkus selimut - kalau mereka mendapat selimut - agar tingkat kegaduhannya tetap rendah. Abjad diterjemahkan jadi 5x5 dot matriks di mana setiap huruf diwakili oleh ketukan vertikal dan horizontal di dinding. Begitu tahanan mengetahui sandi tersebut, ia "masuk jalur." Lewat jarngan ini, mereka saling mengingat dan mengajarkan Kitab Suci serta mengetahui nama dan nomor setiap seri tahanan di blok sel. Mere$ka tahu siapa yang sudah dipindahkan dan siapa yang sedang disiksa; dengan cara ini mereka saling berbagi kesakitan.

Pada Minggu pagi, kalau penjaga memberi mereka peluang, para perwira senior di tiap-tiap blok sel memukul dinding lima kali, memberitahukan para tahanan di sel isolasi dan juga mereka yang punya rekan tahanan bahwa itu waktu ibadah. Tanda itu adalah "panggilan gereja."

Tiap-tiap orang menuturkan Doa Bapa Kami untuk dirinya sendiri atau Mazmur 23 atau Mazmur 100. Kemudian mereka melantunkan himne sunyi dan berdoa secara pribadi.

Seorang tahanan baru dimasukkan dalam sel isolasi di ujung gedung. Tiap-tiap pagi ia menggoncangkan seluruh bangunan dengan berlari di tempat supaya tetap bugar. Setelah orang baru itu diajari sandi ketukan, ia mulai berlari dengan cara yang aneh dan menyentak-nyentak. Tujuh orang di ujung lain blok sel itu memecahkan pesan sang pejoging: "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Aku melayangkan mataku . . ."

---salah satu kesaksian di buku LOVING GOD---


Nuraniku "diusik" dengan kesaksian Rutledge - Jenkins c.s. di balik jeruji besi.
Tembok yang menaungiku siang dan malam jauh lebih bersih dari penjara mereka. Angin semerbit dari mesin AC yang menempel di ruanganku selalu menyejukkan. Tidak seperti udara apek yang jadi menu harian dipenjara, ditambah bercampurnya bau kotoran, bangkai, dan keringat yang bercampur. Dan di dalam kesumpekan yang begitu luar biasa, mereka sangat . . . dan sangat . . . ingin sekali melekatkan diri dengan firman Tuhan. Alkitab . . . ? Mungkin hanya dipunyai dengan lembar-lembar yang sudah kumel dan tidak utuh. Bisa membaca dengan baik . . .? Belum tentu . . .!!!
Namun,
Rutledge - Jenkins c.s. menemukan harta yang sangat indah dan paling berharga dalam kungkungan bui yang kejam. Firman yang terus dibicarakan satu dengan yang lain. Juga komunitas kecil sorgawi dalam blok-blok sel yang ada.

Huff . . . betapa malunya aku! Mengaku sebagai pelayan Tuhan, pekerja Kristus, yang belajar di tempat yang jauh lebih megah dan terstruktur. Namun, seringkali terpenjara di dalam keengganan dan kemalasan untuk senantiasa lekat dengan firman Sang Khalik.

Ya Allah, biarlah aku terus belajar dan mempunyai hasrat yang dalam yang menghanguskan batinku untuk senantiasa melekat dan selalu berlari kepada firman-Mu. Juga bersemangat untuk menciptakan komunitas sorgawi di mana pun aku Engkau tempatkan.
Amin!

Tuesday, January 20, 2009

Urusan Kekudusan Sehari-hari (LOVING GOD I)

Berpikir kekudusan bukanlah membayangkan orang-orang kudus di masa lalu seperti Fransiskus dari Asisi, atau raksasa iman masa kini seperti Ibu Teresa. Kekudusan bukanlah cagar pribadi milik kelompok elite para martir, mistikus, dan pemenang hadiah Nobel. Kekudusan adalah urusan sehari-hari setiap orang Kristen. Kekudusan menunjukkan diri dalam keputusan-keputusan yang kita ambil dan hal-hal yang kita lakukan, jam demi jam, hari demi hari.

Kekudusan adalah menaati Alah - mengasihi satu sama lain seperti Ia mengasihi kita.

Kekudusan adalah menaati Allah - bahkan ketika hal itu berlawanan dengan kepentingan kita.

Kekudusan adalah menaati Allah - berbagi kasih-Nya, bahkan ketika hal itu tidak nyaman.

Kekudusan adalah menaati Allah - menemukan jalan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Kekudusan tidak diraih dengan spekulasi gaib, semangat antusias, atau kecermatan yang tidak pernah diperintahkan; kekudusan diraih dengan berpikir seperti Allah berpikir dan berkehendak seperti Allah berkehendak. Berpikir dan berkehendak adalah proses yang menuntut disiplin dan ketekunan. Diperlukan kasih karunia Allah dan usaha manusia. Memerangi dosa adalah seperti memukul balik serangan gerilya yang terus-menerus. Ini bukan masalah "menang" atau "kalah," lebih tepatnya adalah "taat" atau "tidak taat" dengan firman-Nya (Jerry Bridges; Pursuit of Holiness p.84).

Buku LOVING GOD oleh Charles Colson yang terus "menelanjangi" keberadaan diri saya di hadapan Allah. Saya secara pribadi, saya di tengah para pekerja Kristus, saya di antara anak-anak Tuhan dalam komunitas tubuh Kristus. Mengasihi Allah; terus belajar mengejar kekudusan-Nya.

Terima kasih, Tuhanku! Untuk lembar-demi lembar yang bisa kubaca dan memberkati aku. Untuk mata jasmani dan mata hati yang boleh Engkau "gelisahkan" terus.

Soli Deo Gloria